MENULIS SEBELUM BERTUTUR

June 25, 2010

Kemampuan bertutur seorang penyiar tidak hanya mempunyai timbal-balik dengan mendengarkan, tetapi juga berhubungan langsung dengan kemampuan menulis dan membaca.

Seorang penutur yang baik umumnya memerlukan persiapan tertulis.
Gunanya:


1. Menghindarkan diri dari kesalahan, utamanya menyangkut akurasi. Naskah merupakan jaring penyelamat (safety-net). Naskah juga menghindarkan seorang penyiar dari kekuranglengkapan informasi.


2. Naskah merupakan sesungguhnya penataan alur pikir seseorang secara logis. Jadi, naskah akan menuntun alur tuntunan.


3. Dengan pemahaman yang tinggi atas naskah siaran dan iterpretasi bagaimana menyajikannya, seorang penyiar akan mampu menajamkan gaya bertutur pribadinya.


4. dokumentasi, selain sebagai arsip juga sebagai bahan untuk pengembangan siaran lebih lanjut.


Menurut Robert Mc. Leish, meski disiapkan dalam bentuk tulisan, namun kesannya naskah itu harus memiliki ciri penuturan spontan (spontaneous sound).


Dengan begitu, maka sebuah stasiun radio seyogyanya melengkapi pengetahuan awak siarannya dengan keterampilan menulis. Keterampilan itu menyangkut:


a. pemilihan topik, selaraskan dengan format atau programming, dengan menyiasati dampak apa yang akan muncul di benak pendengar.


b. Susun daftar topiknya secara logis, cari yang materinya siap dan juga pernak – pernik pendukungnya, kemudian pilih yang terbaik.


c. Penetapan bahan tulisan.


d. Penulisan standar siaran, kunci pokoknya:
- Mencitrakan (visualisasi) yang selaras dengan pendengar.
- Komunikasi horizontal : penyiar dan pendengar berada dalam satu level.
- Komunikasi inter-personal : bahasa konversasi antar dua orang.
- Bagian awal tuturan mesti penting, informatif, dan menarik, bisa dengan introduksi   

   topik secara memikat atau langsung masuk ke topik.


e.Struktur tuturan : kosakata dan struktur kalimat.


f. Penetapan format tulisan : ukuran kertas, margin, spasi, jenis huruf, tanda baca radio, panjang tiap tuturan dan sirtem komputerisasi.


MENULIS APA? 

Tuturan di radio bisa dipilah menjadi :


1. Tuturan pengantar, biasa disebut sebagai “call”.
2. Tuturan isi, biasa disebut dengan “talk”


Tuturan pengantar disampaikan oleh penyiar yang tengah berdinas, sementara tuturan isi bisa dikomunikasikan oleh penyiar sendiri atau bisa ditambahi degan tambahan suara dari narasumber.


Tuturan yang bersifat pengantar biasanya disiarkan secara langsung (ad-lib), sedangkan yang bermuatan isi tertentu bisa disampaikan langsung, namun untuk mencapai kualitas komunikasi yang diharapkan tak jarang dikemas dalam bentuk rekaman.


1. Tuturan Pengantar (Call) bisa terdiri atas :

a. Greetings atau sapaan elemennya terdiri atas :
- kata sapaan
- nama penyiar
- sebutan bagi pendengar
- nama program
- nama dan frekuensi stara (stasiun radio)
- waktu (jam dan tanggal)
- sekuen (episode, edisi, sesi)
- isi acara (topik, masalah, bintang tamu)


b. Call On Time, tuturan tentang waktu


c. Call On Song, tuturan tentang musik, elemennya:
- judul lagu
- penyanyi (perhatikan prediksinya)
- komposer atau penulis liriknya
- arranger
- penerbit / pengedarnya
- tahun dan tempat perekaman / penerbitannya
- info lain yang terkait (style musiknya, keunikannya)
- musisinya
- durasinya


d. Call On Agenda, tuturan agenda, elemennya:
- cuaca hari ini
- agenda kegiatan masyarakat hari ini
- hal – hal yang terkait dengan layanan masyarakat, seperti PLN, PDAM, PMI, Kepolisian, Rumah Sakit, PEMDA.


2. Untuk Tuturan Isi (Talk), seperti dikemukakan diatas bisa dituturkan langsung oleh penyiar namun tak jarang dikemas terlebih dahulu

Tuturan tak selalu berupa berita. Beberapa paket acara radio menuntut upaya penulisan secara spesifik. Misalnya, untuk program kewanitaan, anak- anak, atau tips etika.


Dunia wanita, misalnya, menurut Rober L. Hilliard, mesti dikemas dengan pendekatan :


a. Tradisional :
- penyajian informasi menyangkut komunitas wanita
- tips kerumahtanggaan
- busana dan makanan
- pentokohan figure wanita


Jika ini masih akan dipakai tuturkan sebagai minat umum namun tidak mengarahkan wanita untuk “seragam” atau “stereo-type”.


b. Modern, sebagai paket komunikasi-informasi-edukasi :
- problem remaja
- konsumerisme
- lengkungan hidup
- perkembangan social kerumahtanggaan
- hak wanita dan emansipasi
- kesadaran social akan kesenian, iptek dan politik
- fisiologi dan seksualitas wanita
- program kemasyarakatan


Dalam pengemasan tuturan yang isinya lebih bersifat berita atau informasi, maka harus dikembalikan pada kaidah jurnalisme radio. Prinsipnya : bagaimana menggali informasi, bagaimana mengolahnya dan bagaimana menyajikannya.


Kunci pokok pada tuturan di radio terletak pada naskah yang standar yang selaras dengan format siaran berita target audiensinya. Dan yang lebih penting lagi paduan yang harmonis dengan elemen siaran yang lainnya seperti musik atau siaran hiburan lainnya. Secara tenkis dapat disandarkan pada kemampuan penyiar dalam menuturkan call atau talk-nya dan harmonisasi paduan elemen siaran dalam satu sekuen (kurun waktu) siaran tertentu yang memenuhi kaidah teknik dan artistic sekaligus.


KUALIFIKASI PENULIS NASKAH RADIO

 
1. Pecinta kata
2. Pengamat yang cermat
3. Kreatif
4. Lentir dalam sifat dan kebiasaan kerja
5. Bertanggung jawab total terhadap isi dan struktur naskah.


Pendek kata seorang penulis naskah radio yang professional haruslah seseorang yang berketrampilan menajamkan gagasan ke dalam kata – kata atai kalimat – kalimat yang kelak akan disiarkan ke khalayaknya secara tepat dan cepat dipahami

Yang patut diingat bahwa penulis naskah radio akan menuturkannya dalam bahasa untuk telinga, bahasa tutur, yang layak disebut sebagai bahasa radio siaran.


BAHASA RADIO SIARAN
 


Suara manusia di radio pastilah bunyi bahasa. Dengan bahsa, awak radio berkomunikasi dengan pendengarnya. Yang lalu menjadi pertanyaan : adakah bahasa radio?.


Ada. Bahasa radio merupakan program bahasa yang memiliki sifat khas komunikasi radio.

Sebagai bahasa komunikasi massa auditif, maka bahasa radio harus :


- mudah dicerna
- selaras dengan intelektualitas dan wawasan target pendengarnya


Namun, boleh saja ada anggapan bahwa bahasa radio itu sesungguhnya tidak ada. Karena secara umum bahasa radio sama juga dengan bahasa komunikasi standar, yakni bahasa baku.


Bahasa baku, menurut Dr. Yus Badudu, adalah bahas ayang digunakan oleh masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan paling besar wibawanya. Karena radio bersifat local dan khalayaknya ada yang heterogen dan homogen (radio kini menjaring pendengarnya secara segmentatif), maka kebakuan bahasa radio menjadi luwes sifatnya. Khalayak pendengar dengan batasan usia tertentu, di kawasan tertentu memiliki bahasa baku yang khas. Bagi radio yang sasaran pendengarnya umum, tanpa batasan atau pengelompokan karakter, seyogyanya memanfaatkan bahasa baku menurut kaidah tadi.


Meski begitu bahasa baku tidak harus diartikan secara kaku. Bahasa baku tetap memiliki safat kemantapan yang dinamis dalam kaidahnya. Kemantapan itu cukup terbuka untuk perubahan atau penambahan kosa kata dan peristilahan, perkembangan jenis ragam dan gaya kalimat serta maknanya.
Jadi bahasa radio juga mrupakan bahasa yang dibatasi oleh kaidah – kaidah tata bahasa, bahasa dengan ejaan yang benar dan juga bahasa yang kosa katanya mengikuti perkembangan masyarakat


Tak dapat dipungkiri lagi bahasa merupakan senjata utama bagi radio siaran. Musik atau lagu tak bisa diandalkan lagi. Persoalan musik di radio Cuma bertumpu pada kebaruan atau seleksi. Kini, dengan tuturan penyiar dan siarankata sajalah radio bisa mengunggulkan diri.


Bagi radio, bahasa merupakan :

1. Alat komunikasi.
Dalam komunikasi sehari – hari masyarakat sering memanfaatkan bahasa dengan berbagai ragam : secara tertulis, secara oral dan lewat lambing yang disepakati. Pada siaran radio hanya satu polanya, yakni bahasa tutur. Bahasa tutur merupakan bahasa oral, bahasa yang diucapkan oleh manusia.


Dalam prakteknya bahasa tutur ini diolah dikembangkan secara khas. Lahirkah kelak apa yang disebut sebagai bahasa komunikasi radio siaran. Meski tak seragam, namun bahasa tutur itu ada dan terus berkembang. Dan dari waktu ke waktu stasiun – stasiun radio melahirkannya. Paling tidak dalam betuk kosa kata atau ungkapan yang baru.


2. Alat Ekspresi.

Kalau media cetak mengekspredikan diri lewat huruf dan gambar yang dicetak, maka radio mengekspresikan diri lewat bunyi dan suara.

Bunyi di radio terdengar lewat sajian musik atau suara alami dan sound effects yang dimanfaatkan untuk acara siaran tertentu. Sementara suara merupakan produk alay ucap manusia. Suara manusia dalam bentuk bunyi – bunyi bahasa yang bermakna itu merupakan alat ekspresi radio.


BAHASA SEBAGAI PENENTU KINERJA RADIO 


Beberapa stasiun radio menggagas bahwa bahasa siaran secara khas. Biasanya ditandai dengan penggunaakn kosa kata atau struktur kalimat yang khas juga. Ketika kosa kata atau ungkapan pilihan itu disajikan dalam gaya tuturan secara konsisten maka sesungguhnya radio berupaya untuk menjaga hubungan atau komunikasi dengan pendengarnya.


Dengan begitu, bisa dikatakan, bahasa siaran yang khas pada masing – masing stasiun radio menentukan keberadaan atau eksistensi radio – radio sebagai lembaga penyiaran.


Semakin tajam karakter bahasanya, maka semakin konsisten dalam penerapan di acara – acara siarannya, maka bahasa siaran yang khas itu sekaligus melahirkan identitas bagi stasiun radionya. Jadi, bahasa siaran juga dapat menentukan dan sekaligus mendukung kinerja (performance) suatu lembaga penyiaran auditif.

Hubungan antara bahasa siaran dengan kinerja radio dapat disandarkan pada beberapa hal :


1. Positioning.
Yakni kesan di benak pendengar yang muncul setelah ia mendengarkan kekhasan satu stasiun radio. Kekhasan ini, di antaranya, bisa diwakili dengan tuturan dengan bahasa yang khas pula.


2. Segmentasi
Yakni langkah untuk mengelompokkan pendengar menurut klasifikasi tertentu, lalu memilih kelompok yang khas sebagai target pendengarnya.

Praktiknya : bahasa siaran bagi khalayak muda pasti berbeda dngan basahsa untuk yang dewasa atau semua kalangan usia.


3. Format Siaran.
Yakni pola acara siaran yang disandarkan pada pilihan musik, gaya siaran dan isi siaran yang diselarskan dengan target pendengarnya. Di sini pilihan gaya bahasanya juga menentukan.


4. Keunikan Daya Jual (USP = Unique Selling Preposition), yakni sifat kreatif ke arah penciptaan penampilan yang berdaya jual tinggi. Bagi radio siaran sangat bergantung pada factor teknik, program dan termasuk bahasa siaran) dan Air Personality-nya. Untuk mencapai daya jual itu, salah satu kuncinya : bahasa siaran.


MENGAPA HARUS KHAS? 


Bahasa siaran suatu stasiun radio layaknya harus khas. Selain menentukan identitas lembaga penyiarannya, maka beberapa factor berikut dijadikan pertimbangan :


1. Radio akan semakin mengarahkan siarannya pada kelompok pendengar tertentu, sebagai konsekuensi penerapan pendekatan segmentasi atau fragmentasi.


2. Daya Dengar (TSL = Time Spent Listening) pendengar radio terbilang rendah. Karenanya begitu pesawat radio dinyalakan, seorang pendengar seyogyanya dapat menentukan radio apa yang tengah didengarnya, meski tanpa melihat angka frekuensinya.Senjatanya adalah tengara. Bisa lewat jingle, namun yang paling akrab yang dituturkan langsung oleh penyiarnya. Tengara bisa lahir lewat bahasa siaran yang khas.


3. Konsentrasi pendengar radio relatif rendah. Radio pada umumnya didengar sambil lalu, sambil melakukan aktifitas apa saja. Karenanya diperlukan pemicu minat agar pendengar memberikan perhatiannya sedikit lebih banya. Jalan keluarnya : Gunakan tuturan yang kreatif, yang berbeda dari bahasa sehari – hari.

 

Semakin khas bahasa suatu siaran radio, maka semakin kuat jati dirinya akan mudah pula diingat oleh pendengarnya, dan pada gilirannya akan menumbuhkan peminatan. Asal kaidah – kaidah penentunya tetap diindahkan.

  JUDUL LINK  
Link 1
Link 2
Link 3
Link 4